Kamis, 19 Juli 2012

PERAN BIDAN DALAM INFEKSI NOSOKOMIAL


PERAN BIDAN DALAM INFEKSI NOSOKOMIAL
DEFINISI

A.       DEFINISI INFEKSI NOSOKOMIAL
Infeksi nosokomial adalah suatu infeksi yang terjadi di rumah sakit atau infeksi yang terjadi karena adanya organisma/virus dari pasien yang terjangkit organism/virus yang menimbulkan penyakit dan menyebar pada pasien lain termasuk staf rumah sakit, sukarelawan, pengunjung dan pengantar, di karenakan perawat atau bidan tidak memperhatikan sterilisasi dalam perawatan di rumah sakit atau tempat prakteknya infeksi nosokomial ini dapat berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar tubuh.
Infeksi endogen di sebabkan oleh mikroorganisme yang semula memang sudah ada di dalam tubuh dan berpindah ke tempat baru yang kita sebut dengan self infection atau auto infection, sementara infeksi eksogen (cross infection) di sebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari rumah sakit dan dari satu pasien ke pasien lainnya.
Contohnya : pasien yang masuk rumah sakit dengan tujuan operasi usus buntu, tetapi pada saat di rawat di rumah sakit dia terserang atau terkena penyakit TBC.
Hal ini di karenakan perawat atau bidan atau tenaga kesehatan yang merawat pasien tersebut kurang memperhatikan sterilisasi pada perawatan sehingga menimbulkan infeksi/penyakit lain pada pasien yang sedang di tangani.

B.    PATOGENESIS (Tingkat Bahaya Infeksi Nosokomial)
Kuman penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit, separti ; udara, air, lantai, makanan dan benda-benda medis maupun nonmedis. Terjadinya infeksi nosokomial akan menimbulkan banyak kerugian, antara lain :
 1. Lama hari perawatan bertambah panjang
 2. Penderita bertambah
 3. Biaya meningkat


Bahkan apabila seseorang pasien terserang infeksi dari pasien lain maka bukannya sembuh tapi malah akan lebih parah, bila bakteri/virus yang menyerang sangat berbahaya bisa menyebabkan kematian.

C.    CARA PENULARAN INFEKSI NOSOKOMIAL
Macam-macam penularan infeksi nosokomial bisa berupa :
1) Infeksi silang (Cross Infection)
Di sebabkan oleh kuman yang di dapat dari orang atau penderita lain di rumah sakit secara langsung atau tidak langsung.
2) Infeksi sendiri (Self Infection, Auto Infection)
Di sebabkan oleh kuman dari penderita itu sendiri yang berpindah tempat dari satu jaringan ke jaringan lain.
3) Infeksi Lingkungan (Enverenmental Infection)
Di sebabkan oleh kuman yang berasal dari benda atau bahan yang tidak bernyawa yang berada di lingkungan rumah sakit. Misalnya : lingkungan yang lembab dan lain-lain.

          Menurut Jemes H. Hughes dkk,yang di kutip oleh Misnadiarli 1994 tentang model cara penularan, ada 4 cara penularan infeksi nosokomial, yaitu :
1. Kontak langsung antara pasien dan personil yang merawat atau menjaga pasien.
2. Kontak tidak langsung ketika objek tidak bersemangat/kondisi lemah dalam lingkungan menjadi kontaminasi dan tidak di desinfeksi atau sterilkan, sebagai contoh perawatan luka paska operasi.
3. Penularan cara droplet infection dimana kuman dapat mencapai ke udara (air borne).
4. Penularan melalui vector yaitu penularan melalui hewan/serangga yang membawa kuman.



             Kondisi-kondisi yang mempermudah terjadinya infeksi nosokomial,yaitu :
1) Rumah saakit merupakan tempat berkumpulnya orang sakit/pasien, sehingga jumlah dan jenis kuman penyakit yang ada lebih banyak dari pada di tempat lain.
2) Pasien mempunyai daya tahan tubuh rendah, sehingga mudah tertular.
3) Rumah sakit sering kali dilakukan tindakan invasive mulai dari sederhana misalnya, suntukkan sampai tindakan yang lebih besar,operasi. Dalam melakukan tindakn sering kali petugas kurang memperhatikan tindakan aseptic dan antiseptic.
4) Mikroorganisme yang ada cenderung lebih resisten terhadap antibiotic, akibat penggunaan berbagai macam antibiotic yang sering tidak rasional.
5) Adanya kontak langsung antara pasien atau petugas dengan pasien, yang dapat menularkan kuman pathogen.
6) Penggunaan alt-alt kedokteran yang terkontaminasi dengan kuman (Farida Betty, 1999) Sumber infeksi nosokomial dapat berasal dari pasien, petugas rumah sakit, pengunjung ataupun lingkungan rumah sakit. Selain itu, setiap tindakan baik tindakan invasive maupun non invasive yng akan di lakukan pada pasien mempunyai resiko terhadap infeksi nosokomial.

D.  CARA PENCEGAHAN DAN PENANGANANNYA

          Sebagian besar infeksi ini dapat di cegah dengan strategi yang telah tersedia, secara relative murah, yaitu ;
 Menjaga alat-alat kesehatan harus selalu steril saat akan di gunakan untuk memeriksa maupun mengoperasi pasien.

ØPenempatan pasien harus sesuai dengan tingkat penularannya (ruangØ isolasi), penyebaran dari infeksi nosokomial juga dapat di cegah dengan membuat suatu pemisahan pasien. Ruang isolasi sangat di perlukan terutama untuk penyakit yang penularannya melalui udara, contohnya, tuberculosis, dan SARS, yang mengakibatkan kontaminasi berat. Penularan yang melibatkan virus, contohnya DHF dan HIV. Biasanya, pasienyang mempunyai resistensi rendah seperti, leukemia dan pengguna obat immunosupreson juga perlu di isolasi agar terhindar dari infeksi. Tetapi menjaga kebersihan tangan dan makanan, peralatan kesehatan di dalam ruang isolasi juga sangat penting. Rung isolasi ini harus selalu tertutup dengan ventilasi udara selalu menuju keluar. Sebaiknya satu pasien berada dalam satu ruang isolasi, tetapi bila sedang terjadi kejadian luar biasa dan penderita melebihi kapasitas, beberapa pasien dalam satu ruangan tidaklah apa-apa selama mereka menderita penyakit yang sama.
 Apabila pasien positif terkena/terserang infeksi lain selain yang di  derita, perawat/bidan harus segera menangani dan memberikan pencegahan pada penyakit pasien satu persatu dan lebih menjaga kesterilisasian pasien,perawat/bidan maupun kesterilisasian alat-alat kesehatan yang di gunakan.
 Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit, pembersihan yang rutin.

Ø sangat penting untuk meyakinkan bahwa rumah sakit sangat bersih dan benar-benar bersih dari debu, minyak dan kotoran. Perlu di ingat bahwa sekitar 90 persen dari kotoran yang terlihat pasti mengandung kuman. Harus ada waktu yang teratur untuk membersihkan dinding, lantai, tempat tidur, pintu, jendela, tirai, kamar mandi, dan alat-alat medis yang telah di pakai berkali-kali. Pengaturan udara yang baik sukar di lakukan di banyak fasilitas kesehatan. Usahakan adanya pemakaian penyaring udara, terutama bagi penderita dengan status imun yang rendah atau bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit melalui udara. Kamar dengan pengaturan udara yang baik akan lebih banyak menurunkan resiko terjadinya penularan tuberculosis. Selain itu, rumah sakit harus membangun suatu fasilitas penyaring air dan menjaga kebersihan pemrosesan serta filternya untuk mencegahan terjadinya pertumbuhan bakteri. Sterilisasi air pada rumah sakit dengan prasarana yng terbatas dapat menggunakan panas matahari. Toilet rumah sakit juga harus di jaga, terutama pada unit perawatan pasien diare untuk mencegah terjadinya infeksi antar pasien. Permukaan toilet harus selalu bersih dan di beri disinfektan.
 Membatasi transmisi organism dari atau antar pasien dengan cara mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan, tindakan septic dan aseptic, sterilisasi dan disinfektan.
 Melindungi pasien dengan penggunaan antibiotika yang adekuat, nutrisi yang cukup,dan vaksinasi.
ØUpaya pencegahan penularan infeksi di rumah sakit melibatkan berbagai unsur, mulai dari peran pimpinan sampai petugas kesehatan sendiri. Peran pimpinan adalah penyediaan system, sarana, dan pendukung lainnya. Peran petugas adalah sebagai pelaksana langsung dalam upaya pencegahan infeksi. Dengan berpedoman pada perlunya peningkatan mutu pelayanan di rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya, maka perlu di lakukan pelatihan yang menyeluruh untuk meningkatkan kemampuan petugas dalam pencegahan infeksi di rumah sakit.
E.  Kriteria infeksi berasal
1.    Waktu mulai dirawat tidak didapatkan tanda klinik infeksi dan tidak sedang dalam masa inkubasi infeksi tertentu.
2.    Infeksi timbul sekurang-kurangnya 72 jam sejak mulai dirawat.
3.    infeksi terjadi pada pasien dengan masa perawatan lebih lama dari waktu inkubasi infeksi tersebut.
4.    Infeksi terjadi setelah pasien pulang dan dapat dibuktikan berasal dari rumah sakit.
5.    Infeksi terjadi pada neonates yang didapatkan dari ibunya pada saat persalinan atau selama perawatan di rumah sakit.
Sumber infeksi nosokomial dapat berasal dari penderita sendiri, personil rumah sakit  (dokter/perawat), pengunjung maupun lingkungan.
                F.   Pengelolaan Infeksi Nosokomial
      Seperti diketahui, penderita yang terindikasi harus menjalani proses asuhan keperawatan, yaitu penderita harus menjalani observasi, tindakan medis akut, atau pengobatan yang berkesinambungan. Daya tahan tubuh yang lemah sangat rentan terhadap infeksi penyakit. Masuk mikroba atau transmisi mikroba ke penderita, tentunya berasal dari penderita, dimana penderita menjalani proses asuhan keperawatan seperti :
1.         penderita lain, yang juga sedang dalam proses perawatan
2.         petugas pelaksana (dokter, perawat dan seterusnya)
3.         peralatan medis yang digunakan
4.         tempat (ruangan/bangsal/kamar) dimana penderita dirawat
5.         tempat/kamar dimana penderita menjalani tindakan medis akut seperti kamar operasi dan kamar bersalin
6.         makanan dan minuman yang disajikan
7.         lingkungan rumah sakit secara umum

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar